Berjuang Sendiri dalam Ikatan Pernikahan Aku pernah berpikir bahwa pernikahan akan membuat hidup terasa lebih ringan. Bahwa ada dua orang yang saling menopang, saling menguatkan, dan berjalan bersama menghadapi apa pun yang datang. Namun, yang aku jalani justru sebaliknya. Aku menikah, tetapi sering merasa harus berjuang sendiri. Hari-hari berlalu dengan tanggung jawab yang terus bertambah, sementara ruang untuk berbagi semakin sempit. Aku belajar menguatkan diri tanpa tepukan bahu. Menyelesaikan masalah tanpa tempat bersandar. Menangis diam-diam, lalu bangkit kembali seolah semuanya baik-baik saja. Bukan karena aku ingin terlihat kuat, tetapi karena tidak ada pilihan lain. Dalam pernikahan itu, aku menjalani peran demi peran dengan penuh usaha. Menjadi pasangan yang bertahan, yang mengalah, yang berusaha memahami, meski sering kali aku sendiri tidak dipahami. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, namun tak menemukan waktu yang tepat—atau mungkin, tak menemukan telinga ya...