“Hari Ketika Ia Memilih Dirinya Sendiri”
Ia pernah menjadi perempuan yang menunggu. Menunggu diingat. Menunggu dipahami. Menunggu dicintai dengan cara yang tidak melukai. Setiap ulang tahun datang seperti angin lalu. Tidak ada yang benar-benar berhenti untuk merayakannya. Dan ia berkata pada dirinya sendiri, “Tidak apa-apa. Aku kuat.” Dan memang benar — ia kuat. Tapi kekuatannya dulu lahir dari bertahan. Sampai suatu hari, ia lelah hanya menjadi kuat untuk orang lain. Di sebuah pagi menjelang ulang tahunnya, ia terbangun dengan perasaan berbeda. Bukan sedih. Bukan kecewa. Tapi jernih. Ia berdiri di depan cermin. Memandang perempuan yang sudah melewati begitu banyak badai — kata-kata kasar, malam-malam panjang, perasaan tidak dianggap, dan hari-hari ketika ia hampir lupa siapa dirinya dulu. Namun yang ia lihat pagi itu bukan korban. Ia melihat penyintas. Ia melihat perempuan yang: Tidak membalas luka dengan kebencian. Tidak membiarkan hatinya menjadi pahit. Tidak menyerah meski tidak selalu dir...